Pengadaan Barang/Jasa

E-Reverse Auction terhadap Dua Penyedia yang Lulus Evaluasi Teknis (Pengalaman Upgrade SPSE versi 4.2 ke versi 4.3)

Artikel ini saya buat berdasarkan pengalaman saya sebagai Pokja pada salah satu instansi vertical.

Beberapa waktu lalu, saya dan rekan-rekan selaku Pokja Pemilihan pada salah satu instansi vertical membuat paket untuk ditayangkan pada SPSE versi 4.2. Ada 9 Penawar yang memasukan penawaran dan dari 9 Penawar tersebut, didapat 3 penawar terendah yang responsif yang lulus evaluasi Administrasi, Teknis, Harga dan Kualifikasi.

Pokja Pemilihan kemudian memanggil ketiga peserta untuk pembuktian kualifikasi. Dari Ketiga peserta tersebut, hanya dua peserta yang hadir dan dinyatakan lulus pembuktian kualifikasi, sedangkan satu peserta lainnya dinyatakan Gugur pembuktian kualifikasi karena tidak hadir pembuktian kualifikasi.

Pada saat jadwal Penetapan Pemenang, SPSE instansi vertical tersebut diupgrade ke versi 4.3 yang berimplikasi pada berubahnya tahapan sehingga Pokja Pemilihan kesulitan menetapkan pemenang, dimana fitur Penetapan Pemenangnya terkunci oleh system (tidak ada menu urutan pemenang dan menu simpan sebagaimana biasanya).

Pada menu beranda muncul fitur  reverse auction. Pokja kemudian mencoba membaca aturan pada SDP LKPP versi 4.3 pada IKP Angka 28.1 tentang Klausul Penawaran Harga Secara Berulang yang menyebutkan bahwa “apabila hanya 2 (dua) peserta yang lulus evaluasi teknis, maka peserta diminta menyampaian penawaran harga secara berulang (reverse auction) dengan cara menyampaikan penawaran harga lebih dari 1 (satu) kali dan lebih rendah dari harga penawaran sebelumnya.”

Merujuk pada ketentuan tersebut, kasus yang kami alami sebenarnya tidak sepenuhnya masuk kriteria angka 28.1 tersebut karena Peserta yang lulus evaluasi teknis adalah 3 (tiga) peserta termasuk harga dan kualifikasi, tetapi hanya  2 (dua) yang dinyatakan lulus pembuktian kualifikasi. Namun karena aplikasi terkunci karena upgrade ke versi 4.3 tersebut, maka satu-satunya cara (menurut Pokja) untuk membuka atau melanjutkan proses tersebut adalah dengan melaksanakan tahapan reverse auction sebelum dilakukan Penetapan pemenang. 

Pokja akhirnya sepakat membuat jadwal reverse auction dan menghubungi Dua Peserta yang telah lulus pembuktian kualifikasi untuk memasukan kembali harga penawaran. Dan dari hasil reverse auction harga penawaran penyedia menjadi lebih rendah dan terjadi perubahan urutan pemenang, dimana pra reverse auction CV. A yang urutan 1 dan CV. B yang urutan 2, pada pasca reverse auction CV. B menjadi urutan 1 dengan harga yang baru yang lebih rendah dari CV. A.

Berangkat dari pengalaman tersebut, reverse auction membuka ruang bagi Dua Peserta yang lulus teknis untuk kembali memasukan harga dan Pokja bisa mendapatkan Pemenang dengan harga penawaran  yang lebih rendah dari harga penawaran awal seperti gambar di bawah ini. 

update: jika harga penawaran setelah reverse auction dibawah 80% HPS, maka PPK wajib meminta Penyedia untuk menaikan jaminan pelaksanaan 5% dari nilai HPS, bukan 5% dari harga kontrak.

17 thoughts on “E-Reverse Auction terhadap Dua Penyedia yang Lulus Evaluasi Teknis (Pengalaman Upgrade SPSE versi 4.2 ke versi 4.3)”

  1. apakah perlu ada evaluasi kembali setelah proses e-reverse auction? meskipun sudah ada urutan pada kolom e-reverse auction

    Like

  2. soal waktu pemasukan angka penawaran ulang pada reverse auction..apakan ada batasan waktu undangan hari yg sama dan waktunya cuman 2 jam..apakah ini sesuai mekanisme dan apakah tergantung pokja.terima kasih

    Like

    1. Dlm Perlem 9/2018 disebutkan bahwa waktu e-reverse auction sudah harus ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan. Tidak ada satuan batasan waktu yang jelas apakah hari kerja atau jam saja, dlsbg.

      Jika misalnya pokja memberi waktu cuma 2 jam saja secara aplikasi memang bisa, namun sebaiknya Pokja memberi informasi kepada dua peserta reverse auction, bisa pada waktu pembuktian kualifikasi atau menelepon kedua peserta bahwa waktu e-reverse auction akan segera dimulai, misalnya dari jam 13.00 s/d 15.00 WITA sehingga penyedia dapat bersiap melakukan penwaran harga ulang.

      Sepanjang kedua peserta diperlakukan sama sehingga tidak ada yang dirugikan pada sisi yg satu dan diuntungkan pada sisi lainnya karena misalnya informasi e-reverse auction tersebut hanya diketahui oleh satu peserta saja, maka Pokja telah menjalankan proses tender sesuai prosedur dan prinsip2 pengadaan, terutama prinsip terbuka dan bersaing.

      Like

  3. Bagaimana jika kedua peserta tidak melakukan penawaaran harga lagi , karena ketidak tahuan. apakah tender ulang, atau penawaran sebelumnya menjadi dsar penentuan pemenang.
    terima kasih

    Like

    1. Dalam aturan memang hal yang anda tanyakan belum diatur, tapi saya melihat ada kemungkinan lain selain kemungkinan ketidaktahuan yang anda angkat, yakni kesengajaan oknum Pokja untuk tidak memberitahukan kepada kedua peserta terkait jadwal e-reverse auction sehingga penyedia tidak lagi menawar harga ulang. Menurut saya Pokja harus memberitahu kepada dua peserta jika akan dilakukan e-reverse auction. Yang saya lakukan selama ini adalah memberitahu Penyedia pada waktu pembuktian kualifikasi karena itu penting bagi Pokja meminta penyedia menulis nomor telp/HP yang bisa dihibungi pada saat pembuktian kualifikasi.

      Saya sendiri melihat ini sebagai kekosongan hukum karena SDP “belum” secara ekspilisit mengatur kondisi yg anda sebutkan di atas. Namun, jika hal ini terjadi sepanjang pengetahuan saya proses e-reverse auction selesai dan Pokja dapat melanjutkan ke proses lebih lanjut. Dengan demikian jika tidak ada penawaran ulang, maka penawaran sebelumnya dijadikan dasar penentuan pemenang.

      Like

  4. Didalam Dokumen Pengadaan e-reverse auction tidak diberlakukan namun didalam aplikasi spse diberlakukan tanpa ada pemberitahuan kepada penyedia yang lulus evaluasi kualifikasi secara tertulis atau pada saat pembuktian kualifikasi sehingga terjadi persaingan tidak sehat. Apakah sanggahan penyedia dapat diterima dan dinyatakan benar?

    Like

    1. Jika seandainya dalam Dokumen Pengadaan, e-reverse auction “tidak diberlakukan”, maka seharusnya jadwal e-reverse auction diisi angka “0” oleh Pokja. Jika faktanya demikian, maka menurut saya tidak ada alasan bagi Pokja untuk menolak sanggahan penyedia.

      Like

    1. Dilaksanakan pada tender cepat dan juga pada tender, pemberlakuannya merujuk pada SDP. Di permen PU 7/2019, Pokja dapat memilih untuk memberlakukan atau tidak memberlakukan tender cepat, Jika tidak memberlakukan maka pada jadwal dibuat 0.

      Like

  5. Didalam Dokumen Pengadaan e-reverse auction tidak diberlakukan namun didalam aplikasi spse diberlakukan. pemberitahuan kepada penyedia dilakukan 1 Menit sebelum e-reverse aution pemberitahuan jam 12.01 e-reverse action jam 12.02. samapi jam 12.05 sehingga kami pun tidak siap untuk mengikuti e-reverse auction .apakah sanggahan kami bisa diterima atau hanya dianngap alasan saja ?

    Like

    1. Menurut saya harusnya kalau memang dalam Dokumen Pengadaan tidak diberlakukan maka Pokja cukup memberi angka nol pada waktu membuat jadwal reverse auction.

      Sy kira ini murni kekeliruan Pokja saja, membuat jadwal reverse auction 3 menit, padahal di dokumen sudah disebutkan tidak ada reverse auction.. menurut saya pokja seharusnya di tahapan sebelumnya menjelaskan kenapa mereka tidak memberlakukan e-reverse auction berikut alasannya pada waktu tahapan pemberian penjelasan, sehingga tidak peru terjadi kesalahpahaman seperti ini..

      Seingat saya dalam standar dokumen pengadaan Permen PUPR 7/2019 satuan waktu untuk reverse auction itu “jam/hari”, bukannya “menit”.. jadi dalam pemahaman saya reverse auction itu minimal “satu jam”, kecuali dimaknai lain misalnya 30 menit = 1/2 jam, 15 menit = 1/4 jam, kalaupun dimaknai seperti itu Pokja seharusnya memperjelasnya di tahapan pemberian penjelasan sehingga semua peserta mengetahuinya pd saat reverse auction.. ini bagian dari prinsip “terbuka” dan “bersaing”, sebagaimana disyaratkan perpres..

      Like

  6. kami juga mengalami hal yang agak pelik terkait reverse Auction, setelah sukses melakukan reverse auction urutan pertama kami tetapkan sebagai pemenang, kemudian urutan kedua menyanggah teknis dengan bukti bukti yang konkrit (daftar pekerjaan yang sedang dikerjakan dengan bukti bukti kontrak dan photo papan nama proyek) sehingga dalam hal ini kami tersudut, yang ingin saya tanyakan adalah :
    1. apakah urutan kedua masih berhak melakukan sanggah walapun yang bersangkutan telah melakukan reverse auction ? (mengingat urutan sanggah setelah reverse Auction, pe
    2. kalau pilihannya evaluasi ulang apakah secara otomatis urutan kedua hasil reverse auction yang jadi pemenang ?

    Like

  7. semisal pada penawaran pertama CV. A turun 20 %, dan CV. B turun 10 %, lalu dilakukan reverse auction seperti penjelasan diatas, namun dikarenakan ketidaksanggupan, pertimbangan lain dan melihat selisih dengan CV. B cukup jauh maka, CV. A MENAIKKAN penawaran hingga menjadi 15 % dari semula 20 %, apakah hal tersebut diperbolehkan? atau malah hal tersebut justru menggugurkan? terimakasih

    Like

    1. Menurut informasi yang saya terima dari Tim LPSE Pusat (LKPP) dan simulasi pada link latihan SPSE yang saya lakukan. Sistem SPSE hanya dapat menerima harga penawaran yang dimasukan dibawah harga penawaran terendah (yang sudah terkunci oleh system sebagai patokan harga terendah), tidak bisa setelah sudah memasukan harga terus mengoreksi harganya menjadi naik. Kita hanya bisa memasukan harga kembali di bawah harga terendah yang sudah terkunci oleh Sistem.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s